Makan Terlalu Cepat? Ini 7 Dampaknya bagi Kesehatan

Jumat, 02 Januari 2026 | 09:13:28 WIB
Makan Terlalu Cepat? Ini 7 Dampaknya bagi Kesehatan

JAKARTA - Di era serba cepat seperti sekarang, waktu makan kerap dikorbankan demi mengejar aktivitas lain.

Tidak sedikit orang yang menyantap makanan dalam hitungan menit, bahkan sambil bekerja, menatap layar gawai, atau berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya. Kebiasaan ini sering dianggap sepele, padahal cara dan kecepatan makan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan tubuh.

Makan bukan sekadar memasukkan makanan ke dalam perut, tetapi merupakan proses biologis yang melibatkan kerja organ, hormon, dan sistem pencernaan secara menyeluruh. Ketika proses ini dilakukan terlalu cepat, tubuh tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara optimal. Akibatnya, berbagai masalah kesehatan bisa muncul, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi jika seseorang terbiasa makan terlalu cepat? Melansir dari laman Verywell Health, berikut ini beberapa dampak yang dapat muncul akibat kebiasaan tersebut.

1. Tidak Menyadari Sinyal Kenyang dari Tubuh

Tubuh memiliki sistem alami untuk mengatur rasa lapar dan kenyang melalui hormon, seperti ghrelin dan leptin. Namun, sistem ini membutuhkan waktu untuk bekerja. Lambung umumnya memerlukan sekitar 20 menit untuk mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah cukup makan.

Saat Anda makan terlalu cepat, makanan bisa habis sebelum sinyal kenyang tersebut muncul. Akibatnya, Anda cenderung makan lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan tubuh. Selain itu, kebiasaan makan cepat sering kali diiringi dengan mengunyah yang kurang sempurna. Padahal, mengunyah lebih lama diketahui dapat meningkatkan hormon pemicu rasa kenyang dan menurunkan hormon yang merangsang rasa lapar.

2. Muncul Gangguan Pencernaan

Makanan yang masuk ke lambung dalam kondisi belum cukup halus akan menyulitkan proses pencernaan. Selain itu, makan terburu-buru juga membuat seseorang lebih banyak menelan udara. Kombinasi keduanya dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada saluran cerna.

Beberapa keluhan yang umum terjadi antara lain perut terasa begah, kembung, mulas, bergas, hingga kram perut. Jika kebiasaan ini berlangsung lama, iritasi dan peradangan pada lapisan lambung atau gastritis bisa saja terjadi, sehingga menimbulkan nyeri yang berulang.

3. Berat Badan Lebih Mudah Bertambah

Makan terlalu cepat sering kali berujung pada konsumsi kalori berlebih tanpa disadari. Karena sinyal kenyang terlambat muncul, porsi makan menjadi lebih besar. Kebiasaan ini juga kerap disertai dengan ngemil lebih sering.

Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini membuat berat badan sulit dikontrol. Risiko kelebihan berat badan hingga obesitas pun meningkat, terutama jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.

4. Risiko Diabetes Tipe 2 Lebih Tinggi

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan waktu makan kurang dari 20 menit memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang makan lebih perlahan. Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga kadar gula darah tetap tinggi.

Makan cepat dapat memicu lonjakan gula darah yang tajam setelah makan. Jika kondisi ini terjadi berulang, risiko terjadinya resistensi insulin dan diabetes tipe 2 pun semakin besar.

5. Risiko Sindrom Metabolik Meningkat

Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi yang meliputi tekanan darah tinggi, lemak perut berlebih, kadar kolesterol tidak normal, serta gangguan gula darah. Kondisi ini berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

Penelitian menemukan bahwa orang yang terbiasa makan cepat memiliki kemungkinan lebih besar mengalami sindrom metabolik. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan makan berlebihan, kenaikan berat badan, lonjakan gula darah, serta peradangan kronis dalam tubuh.

6. Penyerapan Nutrisi Kurang Optimal

Proses pencernaan sejatinya dimulai sejak di mulut. Mengunyah berfungsi memecah makanan dan mencampurnya dengan air liur agar enzim pencernaan dapat bekerja dengan baik. Tahap awal ini sangat penting untuk membantu penyerapan nutrisi di usus.

Saat Anda makan terlalu cepat dan kurang mengunyah, proses penyerapan vitamin, mineral, serta zat gizi lainnya menjadi tidak optimal. Akibatnya, meski jumlah makanan cukup, tubuh belum tentu mendapatkan manfaat nutrisi secara maksimal.

7. Risiko Tersedak Lebih Besar

Kebiasaan makan cepat juga meningkatkan risiko tersedak, terutama jika mengambil suapan besar atau berbicara saat makan. Risiko ini lebih tinggi pada anak-anak dan lansia yang memiliki kemampuan menelan lebih terbatas.

Mengunyah secara perlahan, mengambil porsi kecil, serta fokus saat makan dapat membantu menurunkan risiko tersedak dan membuat proses makan menjadi lebih aman.

Terkini