Kemenkes

Strategi Kemenkes Atasi Krisis Kesehatan Aceh dengan Ribuan Relawan Terjun Lapangan

Strategi Kemenkes Atasi Krisis Kesehatan Aceh dengan Ribuan Relawan Terjun Lapangan
Strategi Kemenkes Atasi Krisis Kesehatan Aceh dengan Ribuan Relawan Terjun Lapangan

JAKARTA - Sejak awal bencana, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengerahkan sebanyak 3.719 relawan untuk membantu pelayanan kesehatan di wilayah terdampak Provinsi Aceh. Relawan ini tersebar di berbagai fasilitas, termasuk 377 pos kesehatan yang menjangkau 1.008 pengungsian.

“Kami mengerahkan seluruh potensi tenaga kesehatan yang ada dan terus memantau distribusi relawan agar bantuan dapat menjangkau setiap daerah sesuai kebutuhannya,” kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin di Jakarta, Selasa, 7 Januari 2026. Kemenkes menegaskan semua relawan dimobilisasi melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) agar koordinasi penanganan bencana berjalan optimal.

HEOC dibentuk sejak hari pertama hingga hari ketiga bencana di seluruh wilayah terdampak. Pusat kendali ini menganalisis kebutuhan tenaga kesehatan sekaligus mengatur alokasi dan pergerakan relawan agar pelayanan kesehatan tetap efektif dan merata.

Distribusi Relawan Menjangkau Seluruh Kabupaten Terdampak

Laporan kumulatif Sub Klaster Pelayanan Kesehatan menunjukkan relawan tersebar di 18 kabupaten/kota serta tingkat provinsi. Konsentrasi relawan terbesar berada di Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 1.065 orang dan Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 923 orang.

“Sejak hari kedua bencana, relawan kesehatan mulai ditempatkan di berbagai fasilitas pelayanan,” ujarnya. Saat ini, layanan kesehatan disalurkan melalui sekitar 309 puskesmas, 23 rumah sakit pemerintah termasuk RSUD dan RS TNI/Polri, serta 377 pos kesehatan di 1.008 pos pengungsian.

Agus menekankan tantangan utama adalah menjaga rotasi relawan agar tetap lancar. Hal ini penting agar kontinuitas layanan kesehatan tidak terganggu di fasilitas yang ada.

Penugasan dan Masa Tugas Relawan Dikelola Secara Efisien

Rata-rata masa tugas relawan ditetapkan antara 10–12 hari. Penugasan diatur sedemikian rupa agar setiap fasilitas pelayanan tetap memiliki tenaga kesehatan setiap saat tanpa ada kekosongan.

Kemenkes memastikan bahwa setiap rotasi relawan dilakukan secara terjadwal dan terkoordinasi. Dengan demikian, pelayanan kesehatan di wilayah terdampak tetap berjalan optimal meskipun jumlah tenaga berganti setiap harinya.

Selain itu, manajemen relawan juga memperhitungkan kebutuhan masing-masing jenis fasilitas. Hal ini bertujuan agar semua pasien dapat terlayani secara merata tanpa menunggu lama.

Komposisi Relawan dan Dukungan dari Berbagai Sektor

Dari sisi profesi, relawan didominasi oleh tenaga medis lapangan. Perawat menjadi kelompok terbesar dengan 923 orang, diikuti tenaga kesehatan lain sebanyak 766 orang, dokter umum 736 orang, dan dokter spesialis 264 orang.

Selain itu, terdapat 179 apoteker, 124 bidan, serta 350 tenaga non kesehatan yang mendukung operasional layanan. Beberapa profesi pendukung lain juga diterjunkan, termasuk tenaga sanitasi lingkungan, logistik, gizi, psikologi klinis, hingga entomolog kesehatan.

Berdasarkan asal instansi, mayoritas relawan berasal dari unsur pemerintah sebanyak 2.399 orang. Selain itu, dukungan juga datang dari kalangan akademisi sebanyak 780 orang, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 307 orang, dan organisasi profesi 233 orang.

Kehadiran relawan dari berbagai latar belakang ini dianggap penting untuk menjaga kualitas pelayanan. Setiap profesi memiliki peran khusus yang saling melengkapi sehingga proses penanganan bencana lebih cepat dan tepat sasaran.

Penempatan relawan di seluruh fasilitas pelayanan ditujukan agar masyarakat terdampak tidak kekurangan layanan. Kemenkes menekankan koordinasi tetap berjalan melalui HEOC agar bantuan sampai ke semua titik pengungsian.

Fokus Kemenkes: Efektivitas Layanan dan Koordinasi Terpadu

Kemenkes menegaskan prioritas utama adalah efektivitas layanan kesehatan di lapangan. Dengan pengaturan relawan yang sistematis, fasilitas kesehatan tetap beroperasi tanpa hambatan meskipun jumlah relawan berubah.

Agus menambahkan bahwa evaluasi rutin dilakukan untuk memastikan distribusi tenaga sesuai kebutuhan. Hal ini juga untuk mendeteksi kendala di lapangan dan segera memberikan solusi agar layanan kesehatan tidak terganggu.

Sistem manajemen relawan yang diterapkan Kemenkes merupakan strategi penting dalam penanganan bencana. Semua pihak diharapkan bekerja sama agar masyarakat terdampak tetap mendapatkan pelayanan yang memadai.

Penugasan relawan, pemantauan kebutuhan, hingga pengaturan rotasi tenaga dilakukan secara berkelanjutan. Tujuannya agar semua fasilitas kesehatan tetap berfungsi maksimal tanpa menunggu tambahan tenaga dari luar.

Dengan sistem terpusat melalui HEOC, setiap keputusan penempatan relawan bisa langsung dievaluasi. Ini membantu Kemenkes merespons perubahan kondisi lapangan dengan cepat dan akurat.

Distribusi relawan yang merata di seluruh kabupaten terdampak juga memastikan bahwa pengungsi tidak mengalami kesulitan mendapatkan layanan medis. Pos kesehatan dan puskesmas yang aktif menjadi jembatan utama untuk menyalurkan pertolongan kepada masyarakat.

Langkah-langkah yang dilakukan Kemenkes menunjukkan kesiapan menghadapi bencana. Kolaborasi dengan berbagai pihak memperkuat kemampuan negara dalam memberikan layanan kesehatan yang cepat, tepat, dan merata.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index