Emas

Harga Emas Dunia Menguat, Investor Waspadai Data Nonfarm Payrolls AS dan Rebalancing

Harga Emas Dunia Menguat, Investor Waspadai Data Nonfarm Payrolls AS dan Rebalancing
Harga Emas Dunia Menguat, Investor Waspadai Data Nonfarm Payrolls AS dan Rebalancing

JAKARTA - Harga emas kembali menunjukkan kekuatan setelah mengalami gejolak tajam dalam beberapa sesi terakhir, namun prospek logam mulia ini tetap sarat dengan dua tantangan utama yang dapat mempengaruhi arah pergerakan harga dalam waktu dekat. 

Di satu sisi, kenaikan harga emas kemarin menjadi kabar positif bagi investor yang mencari aset safe-haven di tengah ketidakpastian global, namun rilis data tenaga kerja Amerika Serikat dan proses rebalancing indeks komoditas diperkirakan memberikan tekanan jangka pendek terhadap pasar logam mulia.

Perdagangan hari Kamis mencatat bahwa harga emas ditutup di angka US$ 4.478,27 per troy ons, menguat sekitar 0,58 persen setelah sebelumnya ambles sekitar satu persen pada hari sebelumnya. Meski demikian, pada Jumat pagi harga emas kembali sedikit melemah ke level US$ 4.475,04 per troy ons sehingga menunjukkan volatilitas yang relatif tinggi pada logam mulia ini.

Rebalancing Indeks Komoditas Tekan Harga Jangka Pendek

Pasar komoditas saat ini tengah memasuki fase rebalancing tahunan, yakni proses penyesuaian bobot komoditas dalam indeks global agar selaras dengan kondisi pasar terkini. Aktivitas ini biasanya memicu pergerakan harga yang tajam dan volatil karena alokasi dana investasi harus disesuaikan dengan bobot baru. Penyesuaian indeks seperti ini secara historis memberikan tekanan pada emas dan perak dalam jangka pendek.

Senior market strategist di RJO Futures, Bob Haberkorn, menyatakan bahwa selama proses penyesuaian indeks komoditas berlangsung, akan ada tekanan pada emas dan perak sebelum situasi kembali stabil. Menurutnya, apabila proses rebalancing selesai pada pertengahan pekan depan, peluang bagi posisi long untuk kembali masuk ke pasar emas akan meningkat.

Nonfarm Payrolls AS Jadi Titik Fokus Investor

Selain dinamika pasar komoditas, fokus besar pasar kini tertuju pada data nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran AS yang akan dirilis. Data ini dinilai sebagai indikator kunci untuk menilai arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed). Jajak pendapat Reuters memperkirakan bahwa sektor tenaga kerja AS akan mencatat penambahan sekitar 60.000 lapangan kerja pada Desember, lebih rendah dibanding penambahan 64.000 pada bulan sebelumnya, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan turun tipis ke 4,5 persen.

Ekspektasi tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan di pasar tenaga kerja mulai mereda. Penurunan tekanan ini di satu sisi dapat memperkuat peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed sepanjang tahun, sebuah kondisi yang secara historis turut mendukung kinerja emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

Klaim Pengangguran Meningkat, Sentimen Dividen Emas

Data terbaru menunjukkan klaim pengangguran AS meningkat moderat pekan lalu, sementara laporan JOLTS mencatat jumlah lowongan kerja turun lebih besar dari perkiraan pada November. Pertumbuhan payroll sektor swasta Desember juga berada di bawah proyeksi analis, yang selaras dengan pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai melunak. Kondisi ini cenderung membuat The Fed memiliki ruang lebih besar untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga, yang secara umum mendukung harga emas karena menurunkan biaya peluang memegang logam tanpa imbal hasil.

Namun demikian, dampak dari data tenaga kerja yang lebih lemah bisa menjadi pedang bermata dua. Apabila data dirilis jauh dari perkiraan, volatilitas pasar bisa meningkat tajam karena pelaku pasar akan menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap kebijakan moneter Fed dan imbal hasil aset lain.

Geopolitik Masih Menjadi Pendorong Arah Emas

Selain faktor ekonomi makro, ranah geopolitik juga terus mendukung permintaan emas dalam jangka menengah. Ketegangan global, termasuk tindakan Amerika Serikat yang menyita dua kapal tanker minyak terkait Venezuela, terus menambah tingkat ketidakpastian di pasar internasional. Hal semacam ini biasanya mendorong investor untuk beralih ke aset safe-haven seperti emas sebagai alat lindung nilai terhadap risiko geopolitik yang tidak terduga.

Proyeksi bank internasional seperti HSBC menunjukkan bahwa harga emas berpotensi menembus level US$ 5.000 per troy ons pada paruh pertama 2026 didorong oleh risiko geopolitik yang berkelanjutan dan peningkatan beban utang fiskal global. Perkiraan ini sekaligus mencerminkan optimisme terhadap daya tarik emas sebagai diversifier portofolio maupun aset lindung nilai dalam kondisi yang tidak menentu.

Ekspektasi The Fed dan Risiko Pasar Kedepan

Walau optimisme jangka menengah masih kuat, di sisi lain pasar menghadapi risiko besar apabila The Fed tidak menurunkan suku bunga sesuai ekspektasi. Ketiadaan pemangkasan suku bunga, atau bahkan ancaman inflasi yang kembali meningkat, bisa membuat investasi di emas menjadi kurang menarik dibandingkan aset berimbal hasil lainnya. Volatilitas harga emas dalam rentang waktu dekat pun diperkirakan akan tetap tinggi akibat faktor ini.

Tekanan jangka pendek juga berasal dari intrinsik pasar itu sendiri, termasuk rebalancing indeks komoditas dan aksi profit-taking para investor setelah kenaikan signifikan yang telah terjadi di tahun sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, kombinasi antara data makroekonomi AS, kebijakan moneter bank sentral, serta dinamika geopolitik akan menjadi faktor penentu arah pergerakan emas dalam beberapa bulan mendatang.

Dengan demikian, meskipun emas mengalami penguatan dalam perdagangan terakhir, para pelaku pasar dan investor tetap harus mewaspadai sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi harga logam mulia ini, khususnya menjelang data penting nonfarm payrolls dan proses rebalancing yang sedang berlangsung. Jangan lupa bahwa laporan dan proyeksi global seperti dari HSBC menunjukkan adanya potensi upside besar bagi harga emas pada 2026, namun juga disertai risiko koreksi apabila kondisi tertentu berubah tajam.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index